![]() |
| Ayu Agustin |
Sobar adalah seorang suami yang ditinggal pergi isterinya. Setelah pertengkaran yang tak bisa lagi dihindari dan akhirnya perceraian sebagai solusi terbaik, akhirnya Sobar mencari isteri lagi. Isteri yang kedua ini dikira lebih baik. Alangkah kejamnya nasib, ternyata isteri ini diibaratkan membuang kadal dapat buaya. Isteri keduanya ini ternyata seorang yang psikofat, kalau punya keinginan tidak boleh tidak atau harus ada. Pernikahan dengan isteri kedua yang bernama Sarboah ini dikaruniai anak laki-laki satu, namanya Subur. Sobar merasa hidupnya semakin menyiksa, kenapa tidak? bila Sobar pergi untuk usaha mencari nafkah, sang isteri bukan mendoakan yang baik untuk sobar, malah sang isteri ngedumel dan mencurigai suaminya selingkuh, akhirnya tak ada doa yang membawa keberkahan bagi kehidupan Sobar, padahal Sobar tipe lelaki yang setia dan tidak macam-macam. Ia sadar, dirinya tidak tampan, hanya kegagahannyalah yang terkesan dari tubuh kekarnya karena rajin bekerja. Isteri keduanya ini membabi buta, ia selalu curiga dan membatasi gerak usaha sang suami.
Usaha di rumah pun tak membawa kesejahteraan usaha ternaknya bangkrut dan hidupnya semakin perih. Sobar sudah pasrah kalau memang harus menjadi gembel. Ketika Sobar bertengkar dan isteri pulang ke rumah orang tuanya. Sobar ingin berdamai dan mengajak kembali isteri untuk pulang ke rumah. Ironisnya keluarga sarboah bukannya mendamaikan malah menyetujui minggatnya Sarboah. Sobar marah, dengan kegagahannya ia memperingatkan keluarga sarboah untuk membela yang benar, bukan membenarkan yang salah. Akhirnya keluarganya meminta maaf dan Sarboah kembali pulang. Sobar berharap perlakuannya itu menyadarkan sang isteri dan sedikit merubah wataknya, ternyata tidak. Sarboah semakin menjadi-jadi. Bahkan pernah Sarboah akan mengancam bunuh diri bila disakiti hatinya oleh Sobar. Sebetulnya Sobar sudah tak tahan, tapi sobar berusaha untuk selalu sabar menghadapi isteri yang wataknya keras seperti ini. Kemelaratan hidup sobarpun semakin gawat, ibarat buah si malakama, ia serba salah antara usaha dan menganggur. Apabila keluar ia selalu dicurigai, apabila menganggur di rumah, kasihan melihat anak yang ingin jajan setiap harinya. Sobarpun stress.
Ia pergi dengan ongkos seadanya ke rumah gurunya seorang kiai di daerah Bogor. Ia mengadu dan menangis tentang nasibnya yang belum jua membaik. ia mengharapkan kiranya sang kiai meludahinya atau menempelengnya yang akan menyebabkan mengalirnya keberkahan di dalam kehidupannya. Ketika itu sang Kiai malah menasehati,
"Addunia mataa' wa khoiru mataa'iha al maratushshoolihah. Dunia adalah perhiasan dan harta kekayaan yang sesungguhnya adalah isteri solehah. Jika kau ingin hidupmu berkah, maka kawinilah wanita solehah yang senang mendoakan suaminya. ingatlah kisah ketika ibrahim datang ke rumah ismail dan melihat akhlak isterinya buruk, Ibrahim berpesan pada isteri ismail untuk mengganti daun pintu rumahnya, dan ismail menafsirkannya untuk menceraikan isteri yang akhlaknya buruk, dan menikahi isteri soleha yang kelak keturuanannya melahirkan nabi yang termulia yakni Nabi Muhammad Saw."
Sobarpun akhirnya pulang dan ingin mencari solusi untuk menceraikan isterinya dengan cara yang baik.
Semoga kita dapat mengambil setitik pengalaman hidup yang bermanfaat ini.
Carilah isteri yang sholehah. yang menjadi penyejuk mata.
wallahu a'lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar