Kanud Mencari Kiong
Kanud Mencari Kiong
Karena itik peliharaan Kanud banyak, maka ketika matahari sepenggalah Kanud bergegas ke sawah dengan menenteng ember hitam, ia berangkat mencari Keong untuk pakan itik-itiknya. Dengan bertelanjang kaki alias nyeker, ia melewati petak demi petak sawah yang padinya baru setinggi betis. Matanya ke kanan dan ke kiri mencari keong emas yang bersuka ria di lumpur dan air keruh. Ketika menemukan sawah yang banyak terdapat keong emasnya, Kanud turun ke sawah dan memunguti keong-keong yang lapar memakan daun padi yang masih muda. Lumpur yang Kanud pijak cukup dalam, hampir melewati betisnya. Terkadang Kanud terhuyung-huyung karena licinnya lumpur dan lemas tubuhnya karena belum sarapan. Dengan semangat ia mengutip satu demi satu keong yang ada di sawah itu. Yang membuatnya senang biasanya banyaknya keong pada jalannya air di galengan yang bocor. Terkadang kanud mengumpat-ngumpat ketika memungut keong yang sudah mati dan cangkangnya kosong. "Sial, keong bau busuk." atau terkadang Kanud tertipu dengan pandangannya sendiri ketika ia melihat keong dan ia pungut lantas ternyata hanya tanah yang menggumpal yang mirip seperti keong. "Kurang ajar, dikira keong ternyata tanah. Fatamorgana sawah, mungkin karena aku terlalu terobsesi cari keong. Kupret bener dah." Kanud ngomel sendiri seperti orang gila.
Kanud terus menapaki petak demi petak dan hampir ember hitamnya penuh dengan keong ukuran besar kecil. Semakin terasa berat tangannya menenteng ember dan matahari semakin meninggi menyengat wajahnya yang coklat. Keringatnya bercucuran membasahi kaus hitam belelnya. Kolornya mulai kotor oleh lumpur-lumpur sawah yang terpercik. Di beberapa tempat Kanud menginjak kulit keong, hingga telapak kakinya terasa perih. Tapi itu sudah biasa, ia yakin inilah salah satu hukumannya karena telah menjadi predator keong demi usaha itiknya. walau masih SD Kanud senang membantu orang tuanya berternak itik. Langkah demi langkah sampai lah kanud ke kalenan, atau kali kecil. Ia lihat kalenan itu agak kering, dan banyak tenggakan ikan dipermukaannya. Kanud nyengir kuda dan menuangkan semua keong di embernya ke pojok sawah. dengan gesit dan sigap Kanud membuat bendungan yang kokoh dari lumpur. Dan seperti kesetanan ia menimba kalenan itu hingga kering, dan menangkap ikan-ikan yang terkapar kekeringan dilumpur, memasukkannya keember dan diisi kembali dengan keong. "Lumayan, buat makan siang. alhamdulillah." gumam Kanud.
Kanud berjalan pulang dengan langkah cepat. sampai di rumah ia siangi ikan dan keong itu lalu memberi makan itiknya dengan daging keong yang dicacag. dan membakar ikannya untuk dimakan. Kanud bersyukur walaupun hidup dikampung yang notabene susah cari uang tapi masih banyak keberkahan di dalamnya. Kanud bercita-cita ingin menjadi orang besar yang bisa suatu saat nanti menyekolahkan anak-anak miskin seperti dia. Kanud ingin suatu hari menjadi pengusaha yang dermawan dan kaya. Walau mungkin itu hanya hayalan kosong belaka. Kanud selalu optimis, ia berprinsip, orang besar terlahir dari penderitaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar