Minggu, 30 Maret 2014

Cinta Berasas Iman dan Taqwa

Ayu Agustin

Cinta Berasas Iman dan Taqwa
Oleh: Alex Iskandar

Kisah cintaku bertabur di angkasa
memenuhi segenap sudut dunia
cerita dari mulut ke mulut
mengabadikan kenangan yang lama terkubur
aku teringat akan kisah cinta kita
saat kau serahkan hati dan dirimu padaku
padahal aku bukanlah pemuda tampan rupawan
aku hanya pemuda yang mencari cinta sejati
walau berbagai gelombang badai menerjang jiwa
ku cari cinta berasaskan iman dan taqwa
kau gadis yang menyentuh jiwa dan nuraniku
kau menggenggam cahaya cinta yang berpendar-pendar
kubawa dan kujaga cinta ini 
dan ku legalkan dengan mendatangi orang tuamu
namun orang tuamu menolak dan menghardikku
ia menganggap aku adalah santri gondrong yang tak pantas denganmu
ia menganggapku kasta sudra kaum rendahan
aku sadar kau orang kaya dan orang tuamu terhormat
dan kuyakin kau tak memandangku dengan mata harta dan tahta
ku yakin dirimu mencintaiku dengan alasan cinta sejati
kini kuyakin tak selamanya cinta sejati harus memiliki
cinta sejati hadir di hati yang penuh cinta
sang kekasih terbayang di pelupuk mata
walau terpisah jauh tujuh benua
setelah lama berpisah dan kau mulai sakit dan memanggil-manggil namaku
orang tuamu bingung dan tergopoh-gopoh mendatangi rumahku
Bapakmu yang pernah mencelaku berandal, kaget dan menyesal
setelah tahu aku keturunan ulama dan terhormat
airmatanya mengalir sambil memboncengku di atas motornya
ia menyesal hanya menilaiku dari penampilan
dan kini sang putri tercinta terbaring sakit
ia kuatir tidak ada kesempatan meminta maaf pada sang anak
sesampai di rumahnya aku berlari dengan air mata mengucur deras
wajah yang jelita itu kini meredup
ku pangku kepalanya yang lemah itu dan ia membuka mata dan tersenyum
orang tuanya meminta maaf dan menyetujui cinta kami
tapi semua telah terlambat
ruhnya hendak pergi
di akhir kehidupannya sang gadis meminta padaku satu permintaan 
Duhai pemuda baik, izinkan aku menyebut namamu di akhir nafasku
agar kubawa cinta ini menjadi saksi di pengadilan ilahi
aku menolaknya dengan derai air mata
duhai cintaku, jangan kau sebut namaku di akhir hidupmu
sebutlah Nama Allah yang akan menyatukan cinta kita
cinta sejati berasaskan iman dan taqwa
cinta yang abadi di surga
Sang gadis jelita itu tersenyum, dan mengucap salam perpisahan
kutunggu kau di sana duhai kasih.
lalu ia  bersyahadat dan pergi
tiba-tiba pandanganku gelap
samudera air mata kerinduan cinta.

(Puisi ini terinspirasi kisah cinta sang guru)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertarungan Timur dan Barat

Diambil dari Ceramah Abah Uci Cilongok Sekarang negara mana yang benar-benar memegang Syariat. tidak ada. Sebab dalam kompetisinya kalah....