Minggu, 30 Maret 2014

Puisi Nenek Pengemis

Riska Fadhilah
Puisi Nenek Pengemis
Nenek tua itu berbaju merah
dengan kain di selendangkan
ia terlihat kurus dan coklat
tersiksa lapar dan terbakar siang
debu jalan akrab di hidung dan kulitnya
mengemis di trotoar jalan
mengharap uang receh untuk makan
tak jarang wajah-wajah angkuh si kaya
melirik dengan jijik padanya
hari-hari bisu
mentari hanya melotot marah
betapa negeri ini dimiskinkan
si nenek tak bersuara
hanya menedengkan wadah plastik
mengharap kemurahan saudaranya
raungan knalpot kendaraan menghardik
ribuan kesombongan disaksikan
ketidakpedulian dan kejamnya zaman
entah uang receh itu ia pergunakan untuk makan semua
atau mungkin ada oknum yang meminta jatah
kerasnya kehidupan bagi nenek tua itu
kemanakah anak dan cucu tercinta
apa si nenek sebatang kara.
aku hanya membisu menyaksikan jutaan kemiskinan
yang mendekati kekufuran
kemanakah uang rakyat mengalir?
kenapa masih banyak yang miskin.
aku ngeri melihat ribuan potret kehidupan ini.
kakiku telah banyak melangkah
dan debu-debu ini bercerita.
bahwa setelah kesengsaraan ini, akan terbit harapan
lahirnya pemimpin yang adil
yang mensejahterakan bumi
aku menunggu hingga esok,
atau mungkin tahun depan
atau akhir abad ini.
mungkin juga setelah kumati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertarungan Timur dan Barat

Diambil dari Ceramah Abah Uci Cilongok Sekarang negara mana yang benar-benar memegang Syariat. tidak ada. Sebab dalam kompetisinya kalah....