Minggu, 30 Maret 2014

Bang Nadi

Alex Iskandar
Alex Iskandar
Saya berbincang-bincang dengan bang Nadi di suatu siang yang panas. sambil duduk-duduk, bang Nadi menceritakan kehidupannya yang sejak kecil sudah terbiasa susah. Sekolah sering kebanjiran hingga sepatu dikalungkan di leher. Pulang sekolah menggembala kambing dan mencari rumput di sawah. Bang Nadi juga sewaktu bujangan tak malu untuk usaha mengantarkan makanan kering, seperti kerupuk dll. Bang Nadi juga pernah menceritakan pernah berjualan somay di daerah bogor. Pernah juga bekerja diperusahaan konveksi. Kisah sedihnya bang Nadi pernah pulang ke Sukatani kehabisan ongkos. Berjalan berkilo-kilo. di jalan menemukan uang receh yang dipakai untuk naik angkot. Hingga bertemu kenalan sekampung di daerah Jonggol. 

Bang Nadi bercerita panjang lebar tentang perjuangan kuliahnya. Tanah yang dijual orang tuanya untuk biaya kuliahnya. dan keaktifannya dalam berbagai kegiatan yang menunjukkan kegigihannya dalam merubah nasib kehidupannya yang bisa dibilang masih di bawah standar kesejahteraan. Setiap manusia yang terlahir memiliki kekurangan dan kenyang dengan penderitaan, biasanya akan memiliki semangat yang luar biasa dan kemampuan yang orang lain tak punya. Mereka melawan nasib hingga nasib berubah baik. Banyak orang yang susah memiliki semangat kemajuan yang luar biasa, inilah yang diharapkan Indonesia. Bukan susah lalu pasrah menghancurkan hidup dalam kemalasan dan kebodohan. tak ada usaha sedikitpun untuk menjadi manusia unggul di dunia. cukuplah kita terjerembab di lubang kebodohan ini. Jangan siram air garam di atas luka Indonesiaku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertarungan Timur dan Barat

Diambil dari Ceramah Abah Uci Cilongok Sekarang negara mana yang benar-benar memegang Syariat. tidak ada. Sebab dalam kompetisinya kalah....