Jumat, 21 Maret 2014

Debat Kanud dan Ateis

Debat Kanud dan Ateis

Debat Kanud dan Ateis

Pagi itu Kanud didatangi khodim Mbah Musa. Kanud diminta untuk menghadap Mbah untuk tugas penting. Kanud langsung menghadap. "Ada apa Mbah?" tanya Kanud.
"Mbah dapat undangan dari Pak Bupati Prayogo, ada seorang ateis yang datang dari Papua yang sangat ahli berdebat. Para ulama telah berhadapan dengannya tapi kalah argumen dan kewalahan menghadapi orang tak percaya Tuhan itu. Mbah memintamu untuk menghadapi orang itu yang namanya Krostalin. Ia asal Rusia dan telah lama di Papua dan mempelajari Indonesia secara intens. Jadi Mbah kira kamu bisa melawannya." terang Mbah Musa.
"Apa Mbah yakin saya yang masih bocah ini bisa menghadapinya?" tanya kanud lagi.
"Ya anakku. Mbah yakin. Berangkatlah dan mintalah pertolongan Allah." kata Mbah Musa.
"Baik Mbah, mohon doanya."
"Barakallahu fi uluumik."
"Aamiin..." Kanud pergi dengan kendaraan yang dipersiapkan pemerintahan Pemda itu. Sampai di ruang debat yang luas dan dihadiri oleh ratusan ulama dan para muballigh Kanud masuk dengan penampilannya yang sederhana dan masih terlihat ingusan. Kanud mendekati Pak Bupati dan menyampaikan surat Mbah Musa yang mengirimnya untuk berdebat. Pak Bupati agak ragu, tapi dengan kepercayaan Mbah Musa yang terkenal sangat alim itu, akhirnya Pak Prayogo mempersilahkan Kanud untuk memulai perdebatan. Krostalin keberatan dengan lawan debatnya yang masih bocah itu.
"Pak Bupati, Saya datang dari jauh ke sini untuk berdebat dengan orang-orang pintar dan cerdas dari orang Islam daerah sini. Masa saya harus melawan anak kecil model kaya gini? saya keberatan. Panggil saja guru bocah ini untuk debat dengan saya."
Kanud angkat bicara dengan lantang mengatakan, "Pak Bupati saya juga keberatan berdebat dengan orang yang nggak punya otak seperti dia."
Krostalin marah besar dan mencak-mencak, "Pak Bupati, berani-beraninya dia menghina saya di depan umum seperti itu. Hei bocah tolol, kamu jangan sembarangan ya kalau bicara. Kalau kau memang pintar, buktikan kalau Tuhan itu ada."
Kanud menunjuk-nunjuk si ateis itu, "Hei Ateis, kamu yang tolol dan dungu serta nggak punya otak."
"Pak bupati, tolong anak ini segera disingkirkan dan dihukum karena telah menghina saya." pinta Krostalin.
"Maaf pak Bupati," kata Kanud, "Saya tidak menghina dia tapi saya baru memulai perdebatan. Hei Krostalin, jika kau punya otak, maka buktikan kalau otakmu itu ada!"
"Ya tidak bisa lah, kalau saya menunjukkan otak saya, saya mati dulu." kata Krostalin.
Kanud menyambut, "Begitu juga Allah hei ateis, Allah itu ada dan tidak bisa dibuktikan wujud-Nya. kecuali kau harus mati dulu. Adanya alam ini bukti adanya Tuhan."
Krostalin terdiam, merasa terjebak dalam permainan logika Kanud. Dan kanud dinobatkan sebagai pemenang. Orang-orang yang hadirpun bersorak sorai dengan kemenangan bocah itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertarungan Timur dan Barat

Diambil dari Ceramah Abah Uci Cilongok Sekarang negara mana yang benar-benar memegang Syariat. tidak ada. Sebab dalam kompetisinya kalah....