“Indonesia ini adalah negara yang paling unik didunia”. Ki Agus Sunyoto mengawali pemaparannya tentang sejarah Indonesia. “Negeri yang dahulu disebut Nusantara ini bagaikan surga bagi manusia. Kita ambil contoh saja kekayaan alam yang ada di negeri ini. Mulai dari minyak, emas, besi, intan, berlian, uranium dan sebagainya. Negeri ini memiliki semua jenis pertambangan tersebut, tetapi tidak dengan negeri lain yang hanya memiliki satu atau dua jenis saja. Begitu juga dengan hutan di Indonesia, tidak hanya wilayahnya saja yang luas namun juga kayu yang dihasilkan oleh hutan Indonesia adalah kayu yang berkualitas. Salah satu contohnya adalah Kayu Hitam di Sulawesi yang harganya mencapai 90 juta rupiah per 1 kubiknya”.
Karena kekayaan alam yang begitu banyak, maka sejak zaman dahulu semua bangsa ingin mengusai Indonesia untuk dieksploitasi. Itulah sebabnya para penjajah berpikiran bahwa orang Indonesia harus dibikin bodoh, dibikin lemah, dibikin tidak percaya diri dan sebagainya. Proses ini berlangsung sejak bangsa Eropa datang ke Nusantara dalam rangka menjajah bangsa ini. Dibuatlah sistem oleh mereka yang secara pelan-pelan mendidik bangsa ini agar mengikuti cara berpikir seperti yang dimaui oleh orang-orang Eropa. Dan sesuai dengan keinginan mereka, bangsa ini menjadi bangsa yang bodoh. Karena logika berpikirnya mengikuti logika berpikir Eropa.
Sebelum orang Eropa datang ke Nusantara, Bangsa ini sudah sangat maju. Abad pertama tahun masehi misalnya, orang jawa sudah mampu menciptakan kalender Jawa. Berdasarkan perhitungannya, kalender Jawa sekarang memasuki tahun 1947. Jika dibandingkan dengan kalender Hijriyah yang baru memasuki tahun 1431, maka kalender Jawa lebih tua sekitar 500 tahun dari kalender Hijriyah. Kemajuan teknologi manusia Nusantara pun sudah sangat maju. Salah satu contohnya adalah teknologi yang ada di Gunung Padang, manusia Nusantara membangun punden-punden yang berundak-undak menyerupai piramida di Mesir, ketika punden-punden itu diuji karbon ternyata sudah berusia sekitar 11.500 tahun sebelum masehi. Artinya, pada zaman purba orang-orang kita sudah mampu membangun bangunan yang menyerupai Piramid di Mesir. Begitu juga teknologi perkapalan. Kapal-kapal Nusantara saat itu berukuran sangat besar dan panjang. Pada abad ke 2 Masehi, tahun 280M, seorang pegawai bea cukai di China yaitu Wan Zen mencatat kapal-kapal dari selatan ukurannya lebih besar dari kapal-kapal China. Kapal dari selatan itu panjangnya mencapai 200 kaki (sekitar 65 meter) dengan tinggi geldak kapal mencapai 10 meter dan bisa dinaiki sekitar 700 awak kapal dengan total muatan mencapai 10.000 ton. Dan kapal-kapal tersebut dilengkapi teknologi alat penunjuk arah yang disebut “pedoman”, yang kini dikenal sebagai Kompas. Pedoman itu berasal dari kata “dom” (jarum), alat ini ditemukan oleh orang Jawa. Hal ini menandakan bahwa pada zaman purba orang kita sudah menemukan kompas.
Pada tahun 648 M, bertepatan dengan masa kekhalifahan Utsman bin ‘Affan, di kerajaan Kalingga sudah terdapat hukum formal bernama Kalingga Dharma Sastra yang terdiri dari 119 pasal. Kemudian pada zaman Kerajaan Singosari, hukum ini dikembangkan oleh Wisnu Wardhana dengan nama Purwa Digama Dharma Sastra menjadi 174 pasal. Kemudian pada zaman Majapahit, oleh Gadjah Mada dikembangkan lagi menjadi 272 pasal dan dinamai Kutara Manawa Dharma Sastra. Sekalipun bangsa ini berada di antara 2 imperium besar, yaitu China dan India, tidak satupun dari kedua imperium tersebut yang berhasil menaklukan Nusantara.
“Orang Jawa ini mayoritas adalah pelaut, bukan petani”, lanjut Ki Agus Sunyoto. “Pada abad ke 9 masehi, di pelabuhan Sokotra, Somalia, ada seorang Arab bernama Ibnu Lakis mencatat ada 1000 kapal yang berasal dari Jawa yang datang kesana dan menyatakan bahwa mereka sudah melakukan pengembaraan di laut selama satu tahun untuk mencari barang dagangan sekaligus mencari orang-orang Jenggi (negro) untuk dijadikan budak. Menurut Ibnu Lakis, rombongan 1000 kapal tersebut seakan-akan merubah lautan menjadi sebuah kota. Rombongan tersebut kemudian bergerak terus menuju arah selatan, dan tidak pernah kembali lagi”.
Kemudian, ada sebuah pulau besar di sebelah timur benua Afrika, yaitu Madagaskar. Pulau tersebut berdasarkan letak geografisnya yang berdekatan dengan benua Afrika seharusnya warna kulit penduduknya adalah hitam. Ternyata penduduk Madagaskar tidak berkulit hitam, melainkan coklat. Bahasa yang mereka gunakan juga memiliki banyak kemiripan dengan Bahasa jawa. Dan semua orang-orang Madagaskar mengatakan bahwa leluhur mereka berasal dari Jawa. Berdasarkan catatan Ibnu Lakis, pelayaran orang Jawa juga mencapai ke perairan Pasifik. Dari sinilah sejarah kepulauan Hawai dikenal. Hawai menurut basanya berarti: Pulau Padi. Ketika ditanyakan kepada penduduk Hawai, dimanakah Pulau Padi tersebut, mereka tidak tahu. Menurut penelitian antropologi, cara berhitung orang Hawai itu mirip dengan Bahasa Jawa, yaitu : esa, dua, telu, pat, limo, nem, pitu, wolu, sanga, sedasa. Kita tahu bahwa ini adalah hitungan dalam Bahasa Jawa. Hal ini menandakan bahwa bangsa Nusantara saat itu sangatlah besar. Itu sebabnya mulai zaman kuni kita mampu membangun peradaban, membangun Borobudur dan sebagainya. Bangsa Nusantara sangat makmur, mampu melakukan perdagangan dengan transportasi laut. Zaman dahulu, tidak diperlukan izin yang sulit apabila ingin melakukan perdagangan ke luar negeri, ketika kembali dari perjalanan perdagangan tersebut, pemerintah kemudian memeriksa kekayaan yang dimiliki oleh si pedagang, baru kemudian dipungut pajaknya. Orang-orang Nusantara secara postur tubuh sangatlah kecil, namun penjelajahan perdagangannya mencapai ke China, India, Persia sampai di kepulauan Malindi, Somalia.
Perubahan keadaan ini berawal ektika orang-orang Eropa mendengar bahwa harga rempah-rampah dan emas asal India sangat mahal di jalur perdagangan sutera. Kemudian orang Portugis melakukan pencarian Negara India, pertama kali dilakukan oleh Colombus yang ternyata justru kesasar menuju Amerika. Kemudian Vasco da Gama pada tahun 1498M berhasil mencapai kepulauan India dan berlabuh di Kalikut. Ternyata Vasco da Gama tidak menemukan rempah-rempah, emas dan yang lainnya yang menjadi tujuan utama penjelajahan mereka. Hingga akhirnya, Vasco da Gama berhasil menemukan sebuah kepulauan di sebelah timur India dan di kepulauan tersebut terdapat semua barang-barang yang dicari oleh Vasco da Gama tadi. Orang-orang Portugis menyebut kepulauan itu sebagai Estada Indian (India Timur). Sejak saat itu wilayah Nusantara disebut sebagai India Timur. Ketika Belanda datang, mereka kemudian mendirikan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Persekutuan Dagang India Timur. Begitu juga dengan Inggris, mereka menyebut wilayah Nusantara sebagai EIC (East India Company).
Semua bangsa Eropa menyebut bahwa Nusantara adalah India Timur, namun orang Jawa sebagai penduduk asli Nusantara tidak pernah menyebut wilayah ini sebagai India Timur melainkan sebagai Nusantara Jawa. Orang-orang Belanda kemudian diberi sebutan oleh orang-orang Jawa yaitu “Kumpeni”, sebutan ini berasal dari kata Company, yaitu pedagang. Penduduk asli Nusantara menanggap bahwa orang-orang Belanda ini adalah pedagang, bukan penjajah apalagi penguasa. Tetapi orang-orang Belanda menganggap bahwa wilayah ini adalah Negara mereka, kemudian terjadi berbagai perlawanan-perlawanan dari penduduk Nusantara terhadap Belanda.
Belanda melakukan berbagai usaha untuk melemahkan orang Nusantara, mulai dari penundukan kerajaan-kerajaan, penyebarluasan opium, candu dan sebagainya. Dari situlah kemerosotan kepintaran orang-orang Nusantara berawal. Dan sekolah merupakan salah satu keberhasilan mereka dalam menundukkan Nusantara. Belanda begitu detail merancang doktrin-doktrin hingga tiap kata sampai istilah-istilah yang digunakan untuk menyebut orang Indonesia. Sehingga ketika bangsa ini mencita-citakan kemerdekaan, mereka bingung mau menamai apa Negara ini. Belanda menyebut Negara ini sebagai Netherland Hindi (Hindia Belanda). Naskah-naskah sebelum kemerdekaan semuanya menyebut wilayah ini dengan sebutan Hindia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar