Sabtu, 08 Maret 2014

Nasehat Seorang Kakek

Nasehat Seorang Kakek
Alex Iskandar.com

Nasehat Seorang Kakek

Setelah shalat di Masjid, saya mendekati seorang kakek yang cukup tua. Saya menyalaminya dan mengajaknya mengobrol, saya tanya beberapa hal dan tentang pengalaman hidup beliau. beliau menceritakan pengalaman hidupnya yang pahit dan getir. dari semenjak kecil beliau sudah kenyang dengan perjuangan hidup. Berjualan es, kuli kasar, menarik becak, berdagang, mengabdi pada seorang kyai di kota Jakarta dan banyak lagi pengalaman yang lain. Beliau pun bercerita tentang pernahnya beliau diludahi sang kyai di suatu pasar rakyat. waktu diludahi ia sabar dan pedagang di pasar pun menasehati beliau agar tak marah dengan sikap sang kyai. Karena memang banyak kenyataan yang terjadi bahwa tingkah nyentrik sang kyai ini membawa berkah. Dikatakan bahwa pernah sang kyai sekonyong-konyong menempeleng seorang tukang ojeg yang sedang mangkal di prapatan jalan, walhasil, si tukang ojeg lancar rezekinya. Tukang baso yang sedang berdagang didatangi sang kyai ini dan tanpa hujan angin mengacak-acak dagangannya dan walhasil perusahaan basonya maju pesat dan buka cabang dimana-mana.

Dikatakan juga sang kyai pernah memberhentikan tukang cendol, mengacak-acak cendolnya dan meludahinya, tapi anehnya cendol yang sudah hancur itu malah di serbu pembeli. Entah pembeli tak tahu cendol itu diludahi atau memang mencari berkah dari ludah sang kyai.

Si kakek pun menceritakan kisah lucu tentang kyai nyentrik ini didatangi dua kyai muda di bulan ramadhan. dua kyai muda ini bertamu di siang hari. Sang kyai langsung menyuguhkan makanan dan menyilahkan kedua kyai muda itu untuk makan. Satu kyai muda menolaknya dengan mengatakan saya sedang puasa. Tapi kyai nyentrik ini malah ngotot dan memaksanya dengan golok yang terhunus. Satu kyai muda ketakutan dan langsung memakan hidangan itu. Kyai muda yang satunya lagi tetap teguh dengan pendiriannya bahwa ia sedang puasa. bahkan dengan gagahnya mengatakan rela mati di tangan kyai nyentrik itu. Kyai nyentrik lalu tertawa dan menyanjung kyai yang berani itu dan mencela kyai yang langsung makan. Walau dalam fikih, tidak batal orang yang makan karena dipaksa atau lupa.

Si kakek tua itu menasehatiku dengan beberapa wejangan. diantaranya dalam hidup kita harus jujur dan sabar. sopan kepada siapapun. jangan merasa benar sendiri dan banyak bertolak angsur. Beliau pun menasehati saya untuk mengagungkan agama Islam. dan mendoakan saya serta membesarkan hati saya dalam hidup ini.

Setelah beberapa lama tak bertemu dengan si kakek, ternyata tubuhnya semakin melemah dan matanya sudah kabur hingga tak mengenaliku waktu aku menyalaminya dan hanya mengenaliku lewat suaraku. Sungguh sedih hati saya melihat beliau yang masih menderita di hari-hari tuanya dan masih harus mengayun becak dengan pandangan yang hanya beberapa meter ke depan. Akankah pemerintah dan para orang kaya masih ada yang peduli dengan penderitaan orang kecil macam si kakek ini. masih banyak PR kita sebagai bangsa Indonesia untuk mengentaskan kemiskinan negeri ini.

Ingatlah suatu hari yang mana tidak berharga lagi harta dan anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertarungan Timur dan Barat

Diambil dari Ceramah Abah Uci Cilongok Sekarang negara mana yang benar-benar memegang Syariat. tidak ada. Sebab dalam kompetisinya kalah....