Sabtu, 01 Maret 2014

Alangkah Nikmatnya Kopi

Alangkah Nikmatnya Kopi

Alex Iskandar.com

Alangkah Nikmatnya Kopi

Jika kepalaku agak pusing, aku biasanya menyeduh segelas kopi. Dan rehat sejenak atas segala kesibukan yang menyebabkan penat. Alangkah nikmatnya kopi ini. menemani kesendirian dan mengajakku ngobrol tentang banyak hal. dari warna hitamnya hingga pahit yang dikandungnya. kopi menjadi teman bercengkrama hatiku. Ia memberi wejangan kehidupan. Bahwasanya, hidup itu terkadang manis dan pahit. seperti kopi. ia berwarna gelap dan hitam. ada ampas-ampas kehidupan yang mengapung di permukaan. ada sampah-sampah yang harus dibuang. laksana kehidupan yang beragam ini, hidup dipenuhi dengan aneka ragam peristiwa dan pahit manisnya.

Alangkah nikmatnya kopi ini. ditemani pula rokok beberapa batang. teman mentafakuri kehidupan. Rokok seperti umur yang tiap saat semakin habis. hingga akhirnya sampai pada akhir batang hari yang pasti. Umur habis dan ajal tiba.

Alangkah nikmatnya kopi ini. menjadi teman dikala malam yang sepi. ketika tak ada teman atau gadis molek yang menghibur. kopi menghiburku dengan ratusan wacana dan permasalahan. tentang edannya zaman, kebusukan politik, dekadensi moral, dan sistem yang menyesatkan. Kopi memakiku dengan bentakan yang menggelegar. untuk memprotes ketidakadilan dan membela kepentingan rakyat miskin. Ia menasehati akan pentingnya cinta kepada sesama, untuk menggapai cinta yang lebih tinggi. Kopi mengisahkan padaku kisah-kisah memilukan hati. kepedihan demi kepedihan yang menimpa saudaraku yang jadi gelandangan, kehancuran hati orang yang disakiti, hingga kekejaman dunia akan nasib orang lemah.

Kopi membuka mataku di kegelapan malam. bahwa hidup ini butuh cahaya, butuh aturan yang benar-benar adil untuk mensejahterakan rakyat. butuh penegakkan hukum bagi para maling yang duduk di bangku pemerintahan. hidup membutuhkan pemuda yang berjuang untuk melepaskan belenggu penjajahan dalam kemerdekaan. Musuh dalam selimut yang merampok harta rakyat demi mengenyangkan perut dan nafsunya.
padahal nafsu tak akan pernah kenyang diperturutkan. ia api yang semakin membesar dengan diberi kayu bakar. Ia naga yang berbahaya. ia wujud dari angkara murka yang mengkacaukan dunia.

Kopi menganjurkanku untuk benar-benar memilih pemimpin yang berani untuk merombak dan membongkar sistem. Memperbaiki bangsa yang hancur parah ini. Membangun kembali pondasi yang kuat untuk bangsa yang besar dan hebat ini. Dan kekuatan pemuda itu terletak pada hatinya yang bersih dan shalih. yang seperti Umar bin Abdul Aziz atau Muhammad Al Fatih yang kuat melakukan ibadah dan kuat memerintah dunia. Atau mungkin Kopi merindukan pula sang pemimpin sebijak dan seperkasa Iskandar Dzulqarnain dan Nabi Sulaiman. setelah kopi yang nikmat ini mengajarkanku banyak hal. Ia berpesan di tetes-tetes terakhirnya. Bahwa sejarah tidak akan pernah menulis orang-orang pengecut dan pemalas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertarungan Timur dan Barat

Diambil dari Ceramah Abah Uci Cilongok Sekarang negara mana yang benar-benar memegang Syariat. tidak ada. Sebab dalam kompetisinya kalah....