
Brosman Penyanyi Dangdut
Sejak kecil, Brosman ingin menjadi penyanyi dangdut terkenal. Setiap ngangon kambing di sawah kering berumput atau di tanggul kampungnya ia selalu berlatih bernyanyi. Puluhan lagu ia hafal dan suaranya sangat merdu. Di siang hari ia berteduh di bawah pohon suren yang rindang di pinggir kampung, sambil memantau kambing-kambing gembalaannya, ia duduk bersandar sambil bernyanyi.
"Kalau hanya untuk mengejar laki-laki lain
buat apa sih benang biru kau sulam menjadi kelambu.
Sementara kasih sayang yang kuberikan
engkau anggap tuk membayar hutang cinta yang kupinjam
kalau belum lunas, mengapa tak menagih lagi."
"Woy! brisik." terdengar suara Mahmud dari belakang Brosman. Ia teman ngangon yang sering usil bila Brosman asik bernyanyi.
"Ah kau ini mahmud, nggak boleh orang senang saja. aku kan lagi latihan." cetus Brosman. Mahmud nyengir ngledek.
"Latihan sih latihan Bro, tapi tidak di tengari bolong kaya gini. Suaramu memang merdu, tapi kalo lagi panas kaya gini, aku jadi bringsang tau." Mahmud sewot.
"Biasa aja dong. Suara aku, mulut mulut aku. ngganggu aja."
"Iya emang itu mulutmu Bro, tapi kan aku juga punya kuping. Jangan seenak perutmu dong. Kalo mau jadi penyanyi terkenal, ya manggung atuh di dangdut hajatan orang. kalo di sini nggak ada pendengarnya, paling kodok sama balang sangit. hahaha." Mahmud terbahak.
"Iya, nanti deh aku nyumbang lagu di dangdutan. Makanya aku latihan biar bisa terkenal kaya Bung Haji Roma Irama, atau penyanyi dangdut lain. hahay..." Brosman optimis.
"Kamu jangan mimpi di siang bolong begini Bro, ingat satu hal. Bahwa orang itu melihat wajah sang penyanyi. Bukan suaranya. nah wajahmu saja itam jelek begini. siapa yang mau dengerin. aku aja nggak. hahaha" Mahmud ngakak lagi. Brosman melotot marah. Ia bangun dari duduknya dan menunjuk Mahmud.
"Kamu jangan matahin semangat aku ya Mud, aku akan buktikan kalau nanti aku akan jadi penyanyi terkenal."
"Maaf Bro, jangan gampang tersinggung donk. aku kan cuma ngasih nasehat. Silakan deh kau kejar cita-citamu. aku sebagai teman dukung-dukung aja. Tapi ingat, jangan menyanyikan lagu lagu yang tak bermoral. yang mengusung sikap yang tak baik, baik untuk bangsa dan agama. jadilah penyanyi yang juga dai, seperti Haji Roma. Nada dan Dakwah, Bukan nada dan dada. hehehehe..." Mahmud cengengesan.
"Hahaha, bisa aja kau Mud, iya udah, aku akan menjadi penyanyi dai yang akan menjadi Raja dangdut yang menjunjung tinggi nilai moral negara kita, bukan hanya asal nyanyi. apalagi dengan goyang yang tak pantas dan mengumbar aurat. Bernyanyi untuk persatuan dan kebangkitan bangsa seperti Iwan Fals yang liriknya suara rakyat jelata."
"Boleh-boleh..... siiiip deh. Kalo aku mau gantiin KH. Zainuddin MZ ah. Aku akan latihan ceramah di depan rumput-rumput menghijau, dan jamaah lain. Wahaaaaai saudara-saudara kodok yang saya hormati... hahahah"
Brosman terpingkal-pingkal melihat tingkah mahmud yang gokil itu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar