Rabu, 19 Maret 2014

Sarbini Nyantri

Sarbini Nyantri

Sarbini Nyantri

Sarbini baru satu minggu nyantri, setelah kenal dengan teman-teman barunya dan kegiatan di pondok pesantren sudah aktif, ia ingin mengejar ketertinggalannya dalam kemahiran membaca kitab dengan mengaji langsung pada ustadz di pesantren yang sudah mumpuni ilmunya, ngaji langsung dihadapan ustadz ini namanya netek atau talaqqi. dengan menenteng kitab Awamil, sarbini mengetuk pintu kobong sang ustadz dan menyodorkan kitab tipisnya sambil bersila.
"Kang, ajarin saya ngaji kang." kata Sarbini.
"Hayuk..." jawab ustadz Sarinto
"Gimana kang caranya?" tanya Sarbini.
"Coba kamu baca semampu kamu.!" Perintah ustadz Sarinto.
"Nggak bisa kang, huruf arabnya gundul, yang gondrong aja bacaan saya blepotan." kata Sarbini melas.
"Ya sudah, akang baca, kamu syakalin ya! terus artinya kamu tulis dibawah lafadz arabnya. kalo bisa nulisnya pake huruf arab pegon. biar gampang bacanya." terang ustadz Sarinto.
"Baik kang, saya akan lakukan." kata Sarbini sambil mengangguk faham.
"Bismillahirrohmanirrohim...I'lam annal 'awaamila finnahwi mi atu 'aamilin.....
Kelawan nyebut asmane Allah kang maha welas ingdalem dunia tur kang maha asih ingdalem akherat. Weruha sira, setuhune sakehe amil ingdalem ilmu nahwu iku seatus amile..." ustadz Sarinto membacakan kitab awamil. Sarbini menulisnya dengan teliti, lalu diperintahkan untuk membacanya berulang-ulang hingga hafal. setelah hafal baru dibacakan makna yang selanjutnya.

Dua halaman sudah Sarbini mengaji pada ustadz Sarinto, setelah ditutup dengan wallahu a'lam bishshowab, Sarbini pamit ke kobongnya dan mencium tangan sang ustadz. ia berjalan menyusuri pinggir majlis atau aula mengaji yang besar, ia melihat ada santri yang tadarusan dipojok majlis dan ada juga yang sedang membaca rawi dan sholawat. Menjelang Ashar itu pun ia mendekati segerombolan santri yang sibuk menempelkan tulisan mereka di mading pesantren. Ada juga yang serius membaca koran harian yang terpampang di situ. Ia membaca sebuah puisi yang tertempel di mading yang bertuliskan..

Dalam Gelora Hati
Karya: Sarimin

Aku disini mencari cahaya
Hidayah yang berkilau
menerangi tujuh benua dan tujuh samudera
menembus tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi
Belajar untuk kejayaan masa depan
dibakar gelora hati perjuangan
aku santri yang kecil
mencoba untuk meneriaki dunia
membangun kembali reruntuhan peradaban
menegakkan keadilan dan meruntuhkan kezaliman
aku disini untuk menggali sumur ilmu
hingga kudapatkan pancaran air kehidupan yang tak pernah kering
untuk kesejahteraan kaumku
untuk menyemikan kembali harum bunga
berbagi cinta di dalam gelora hati pengabdian
untuk dunia dan bekal akhirat nanti


"Luar biasa...." kata Sarbini. "aku pun ingin berbagi ilmu, jika ku pulang nanti ke kampung halaman"lanjutnya.
Sarbini bertolak ke kobong dan membaca kitab-kitab yang telah dikaji dengan suara lantang. ditemani Sarimfa teman sekelasnya yang juga kuat membaca kitab 1 jam tanpa henti. Mereka berlomba dalam kebaikan. Untuk menjadi pemimpin dunia di masa mendatang. Sarbini sering menantang kepintaran temannya untuk mengambil ilmunya dengan bertanya macam-macam. Etos kerja pesantren adalah salah satu harapan bangsa di masa depan. Tapi, sudahkah pemerintah memperhatikan dunia pesantren dan melestarikannya?







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertarungan Timur dan Barat

Diambil dari Ceramah Abah Uci Cilongok Sekarang negara mana yang benar-benar memegang Syariat. tidak ada. Sebab dalam kompetisinya kalah....