Alex Iskandar.com

Kompetisi Hidup
Hidup terkadang sungguh kocak dan lucu. Ada yang namanya kompetisi hidup, yang mana kita dengan saudara, teman, partner kerja, masyarakat, komunitas remaja, atau dengan segala kalangan melakukan kompetisi tiada akhir. Ada kisah 4 anak kecil yang membanggakan ketinggian bapaknya, yang mana anak pertama berkata dengan sombongnya bahwa bapaknya besar sebesar rumah, yang kedua tidak mau kalah, ia mengeluarkan statemen bahwa bapaknya setinggi pohon kelapa, yang ketiga tak kehabisan akal, ia membantah anak kedua bahwa bapaknya setinggi bulan. Dua anak yang terdahulu terperangah dengan kesombongan anak ketiga, tapi yang lebih sinting lagi anak yang keempat. Ia bertanya dengan nada lugu ke anak ketiga, "eh, bapakmu kalau berdiri nyundul yang empuk-empuk nggak?" anak ketiga dengan bangga mengiyakan. dan anak keempat melanjutkan ungkapannya, "yang bapakmu sundul itu pantat bapakku. hahaha" kompetisi yang konyol memang.
Aku berjalan kaki, lalu ada temanku memakai sepeda dengan sombong di kepalanya. aku beli sepeda, dan temanku membeli motor. Ketika aku membeli motor temanku membeli motor yang lebih bagus lagi. aku mulai merasa, sepertinya temanku ini selalu menyaingiku. dan tak mau kalah dengan kemampuanku. ya sudah, kalau dia mau berkompetisi denganku. aku pun bisa menyaingi dia. aku pakai motor butut, apakah dia mau pakai motor yang lebih butut lagi, aku naik sepeda, apakah dia mau jalan kaki, atau aku jalan kaki dengan tanpa sandal dan sepatu, apakah ia bisa menyaingiku dengan berjalan ngengsot kaya suster ngesot. Dalam kompetisi bermiskin-miskin mungkin pemenangnya adalah aku. jadi hendaknya kita tidak usah hasud terhadap orang lain yang lebih dari kita dalam hal materi. yang dianjurkan adalah berlomba dalam kebaikan, fastabiqul khairot.
Terkadang saya ngakak melihat, kok ada orang miskin dihasudi cuma gara-gara ia lebih kaya dalam hal ilmu pengetahuannya. padahal D3 saja tidak lulus. Hikmah itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada hambanya yang mau bertawadhu dan terus belajar. jika temanku ingin menyaingiku dalam mendapatkan hikmah dan pengetahuan tentang kehidupan, ia harus juga menempuh jalan penderitaan, dan bergaul dengan orang susah, belajar dari hidup dan mengambil hikmah dari segala sesuatu. serta belajar untuk rendah hati dan ojo dumeh. kita bisa belajar dari Quran yang tertulis dan Quran yang terhampar lembaran-lembarannya di alam semesta.
Ada yang lebih aneh lagi. yaitu dimana penyakit hasud ini tidak hanya menjangkiti orang-orang awam. Hatta, orang alim pun ada yang hasud. Saya sempet GR ketika saya sedikit menyampaikan sedikit ilmu di suatu forum. Penceramah selanjutnya mengktitik penyampaianku yang katanya ada kesalahan ini dan itu. Ia membangun image bahwa dialah yang benar dan lebih pintar dibanding saya. Saya bersyukur sekali kalo ada yang hasud pada saya dan mengkritik ceramah saya. Itung-itung advertensi gratis dan lumayan bisa ngurangi dosa-dosa saya yang seabreg-abreg ini. Likulli dzii ni'matin mahsuudun, setiap pemilik nikmat, pasti ada yang hasud. setiap perkataan saya, perbuatan saya, bahkan niat saya, pasti salah dimata orang hasud. Terkadang saya jadi yakin juga statemen yang menyatakan bahwa kita tidak akan pernah benar dimata orang lain. dan jangan bermimpi orang-orang semua menyukai kita. mbok Rasulullah insan kamil saja dimusuhi kaumnya. mbok Allah saja sebagai Tuhan masih dikritik. Apalagi saya yang masih banyak salahnya. karena dari itu, anda tak usah ikut saya, tak usah percaya pada saya, mungkin anda yang lebih faham akan hidup ini dan lebih tinggi ilmunya, karena anda makhluk yang diberi akal untuk berfikir dan hati untuk membedakan salah dan benar. Atau mungkin bisa jadi setan lebih benar dari saya, karena setan tahu apa yang ia kerjakan salah dan akan masuk neraka, tapi saya sebagai bani Adam, terkadang berbuat salah tapi menganggapnya benar dan mengharap surga di akhirat.
semoga saja Allah swt mengampuni kita semua. Aamiin.
Kompetisi Hidup yang benar mungkin adalah prestasi ibadah kepada Allah, bermuamalah dengan baik kepada sesama manusia, dan dalam skala makro yaitu berbuat baik terhadap alam semesta. Berbuat ihsan dengan berbuat lebih baik kepada orang yang baik, atau berbuat baik terhadap orang yang jahat pada kita. contoh yang kongkrit adalah Rasulullah saw. karena gerak langkah hidup beliau penuh dengan hikmah dan pesona. Beliau adalah bapak para yatim, pecinta orang miskin, dan mempraktekan hidup sederhana,beliau membalas ludah tetangganya dengan buah-buahan. membalas cacian dengan doa. beliau pernah shalat di masjid, dan Umar memperhatikan perut Rasul terlihat buncit. Setelah diselidiki ternyata Rasulullah saw. mengikatkan batu dilambungnya karena menahan lapar. Rasulullah tidur diatas tikar kurma dan tak ada perabot rumah yang mewah, Umar pun menangis, melihat keprihatinan hidup Rasul. sangat jauh berbeda dengan Raja Kisra dan Kaisar di Persia dan Roma. Dan Rasulullah berucap dengan indahnya, Wahai Umar, apakah engkau ridha, akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?.
Kompetisi yang seharusnya kita bangun adalah bagaimana kita bisa menyaingi kehebatan orang-orang Barat dalam segala hal. mengadopsi yang baik dan membuang yang buruk. kembali meningkatkan kreatifitas kita, agar dengan itu kita bisa membangun kembali peradaban kita yang hilang. Orang kristen telah maju, orang Yahudi pun telah maju, Budha dan Hindu telah maju. tetapi lihatlah negeri-negeri Islam. Kita harus berkompetisi dengan sehat dalam hidup ini. Ketika Orang Islam mundur dan jumud, bukan salah Islamnya. tapi salah personalnya. Islam ketika dipraktekan dengan ketat dizaman dulu melahirkan orang-orang yang berkuasa dan hebat-hebat. tapi ketika kita berpaling dari Islam dan tak mengaplikasikannya dalam hidup kita. akhirnya kita terasing dipojok-pojok peradaban dunia. esensinya, kita harus kembali kepada Islam, mendalaminya untuk mengambil ruh Islam yang menjadi mobilitas untuk proggres menyongsong masa depan yang cerah. semoga ada manfaatnya.
Selamat berkompetisi sehat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar