
Karya: Asy-Syaikh Muhammad An-Nawawi Al-Jawi
Segala puji dan puja hanya untuk Allah Yang Maha Suci dari tanda-tanda ketidakabadian dan segala bentuk dan keadaan. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak membutuhkan bantuan makhluk-Nya. Sedang setiap yang hidup (makhluk) akan selalu membutuhkan bantuan-Nya, kapan dan dimanapun. Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah penghulu bagi manusia. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah pada-Nya dan kepada ahli baitnya (keluarganya) yang mempunyai keutamaan melebihi sekalian manusia serta bagi para sahabat yang memperoleh kebahagiaan berupa ridha dan meridai (Ridha Allah dan mereka ridha kepada-Nya.
Kitab kecil ini adalah suatu kajian yang merupakan penjelas dari risalah yang ditulis oleh Syaikh Bajuri dengan judul "Tijan Ad-Darari fi Syarhi Risalatil Bajuri".
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Nama "Jalalah" (Allah) adalah menunjuk kepada Dzat yang menghimpun seluruh sifat ketuhanan. Dan "Maha Pengasih" adalah Dzat yang banyak mencurahkan rahmat kepada seluruh hamba-Nya dengan menutupi (mengampuni) kesalahan-kesalahan mereka di dunia ini. Sedang "Maha Penyayang" adalah Dzat yang selalu melimpahkan rahmat kepada semua hamba-Nya di akhirat nanti dengan memberi ampunan dan Surga.
Oleh karena itu, seorang hamba hendaklah selalu memandang Allah dari segi kekuasaan-Nya dan memandang kasih dari segi nikmat-Nya serta sayang dari segi pemeliharaan dan ampunan-Nya pada setiap dosa.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Yang menjadi raja bagi langit dan bumi, untuk disembah oleh segenap makhluk-Nya.
Rahmat dan keselamatan semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah saw. kata "Muhammad" menjadi isim alam, sebab hanya berlaku untuk Dzat yang mulia.
Keharusan Seorang Mukallaf Untuk Mengenal Sifat-Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah
Diwajibkan bagi setiap muslim mukallaf (yang telah dewasa) laki-laki maupun perempuan, baik dari golongan awam, para hamba, dan pelayan agar ia mengetahui sifat-sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah swt. Sebagaimana difirmankan:
"Maka ketahuilah, bahwasanya tiada Tuhan selain Allah."
Pengetahuan ialah suatu penemuan yang mantap dan bersih serta tidak diikuti oleh kebimbangan yang hal ini, sesuai dengan kenyataan (dalil).
Menurut syariat agama, orang tersebut dikenai kewajiban individu (wajib ain) untuk mengenal akidah beserta dalilnya secara global.
Adapun mendalami akidah beserta dalilnya secara terperinci hukumnya adalah fardu kifayah bagi mereka. Dengan demikian, setiap daerah yang sulit dijangkau (pedalaman) dan penghuninya pun sulit untuk mendatangi daerah lain, maka hendaknya disana ada seorang yang mendalami akidah beserta dalil-dalilnya secara rinci (ulama, kyai). Karena kadang-kadang disana terdapat kesamaran atau kesalahpahaman, maka orang tersebut akan segera menolaknya atau membetulkannya.
Yang dimaksud dengan dalil global ialah dalil yang membutuhkan penafsiran dan pembuktian dari sifat keglobalannya. Apabila anda ditanya: Apakah dalil yang membuktikan bahwa Allah swt. itu ada (wujud)? Lalu anda menjawab: Alam ini. Akan tetapi anda tidak mengerti dari segi mana membuktikannya. Apakah yang menunjukkan itu sifat barunya alam atau anda mengerti namun tidak mampu menjelaskan dalilnya. Oleh karenanya, dalil anda (yaitu alam) adalah merupakan dalil global.
Pengertian seorang mukallaf akan akidah beserta dalilnya sama saja dengan memahami makna akidah dengan terbukanya tabir (penutup) hati.
Ketahuilah, bahwasanya merupakan suatu keharusan atas setiap orang mukallaf untuk mengetahui semua sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah. Maka segala sesuatu yang bersumber dari dalil aqli atau naqli secara global, seperti, Allah wajib mempunyai sifat sempurna dan bersih dari segala sifat kekurangan, wajib diketahui dalilnya secara global. Untuk itu, wajib bagi kita meyakini bahwasanya Allah mempunyai sifat sempurna yang tiada terhingga apabila dipandang dari segi bilangan. Allah swt berfirman:
Walaa yuhiithuuna bihi 'ilman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar