Cinta Dikala Senja
Selaksa sinar mentari jatuh di barat
senja bertasbih dibalut awan kelabu
bersama nyanyian burung kala senja
daun-daun menari menginspirasi ribuan ilham
kesejukan kala senja tiba
seperti simponi yang tak terkata
mengalun indah bersama senyum bunga-bunga
mentari pun bersembunyi dibalik cadar awan hitam
laksana gadis perawan yang dipingit dalam rumah
setelah awan pergi ia kembali berpijar walau tak panas
warna menguningnya bak daun yang menua
ibrah dari akhir yang pasti
kala senja sang burung bertanya pada bunga ungu
kenapakah mentari menguning
inilah peredaran dan zikir semesta, teriak bunga ungu
dan sebentar lagi akan memerah dan datanglah gelap
duhai burung pipit, janganlah bersedih
karena di balik kegelapan, Tuhan tak meninggalkan kita
masih ada petunjuk setelah gelap
masih ada secercah cahaya bintang-bintang dan rembulan yang menemani
jangan bersedih kala perpisahan senja tiba
karena umur memang begitu cepat berlari
seperti maling yang mencuri isi rumah
mencuri siang malam yang teralfa dari sembah sujud pada yang Maha Kuasa
hingga kala senja tua menguning dan memerah
semua harta dunia tak dibawa
hanya membawa beberapa lembar selimut putih dalam balutan kafan
Oooh, hari-hari yang sia-sia
begitu licik kau menipuku.
setelah kematian datang dan aku dalam gelap kubur
baru kusadar, adakah cahaya yang menemani?
adakah bintang yang menjadi penghibur.
adakah doa dipanjatkan untuk sebujur bangkai yang kesepian.
adakah penolong yang baik hati yang menolong anak malang yang tenggelam.
senja yang pasti
dan tinggal menunggu waktu.
Ya Allah biha Ya Allah biha ya Allah bihusnil khatimah.
dalam senja yang kini menyapa, duhai hamba tua renta,
jangan pergi ke Arah gelap, masih ada cahaya
dan pintu taubat masih dibuka sebelum nyawa di kerongkongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar