Alex Iskandar.com
Catatan Akhir Pekan Alex Iskandar Ke-4
Catatan Akhir Pekan Alex Iskandar Ke-4

Catatan Akhir Pekan Alex Iskandar Ke-4
Oleh: Alex Iskandar
Alhamdulillah, CAP Alex Iskandar sudah berjalan ke pekan yang ke-4. Semua ini atas berkat maunah dari Allah ta'ala. Kita semua berdo'a semoga kita selalu dalam rahmat dan lindungan Allah swt. Aamiin..
Saya menonton beberapa tayangan TV News, baik berita seputar Bencana Banjir dan Gunung Sinabung, serta berita-berita politik yang mencakup kampanye besar-besaran lewat iklan di televisi, tentang Annas Urbaningrum, Nyanyian Nazarudin dan juga kejadian-kejadian disekitar daerah saya, seperti di Pulo Aren, Sukatani, Tambelang, dan Cabang Bungin. Banyak pelajaran dan renungan yang harus kita refleksikan. Betapa pantas dan sewajarnya saat ini kita flashback kepada pelajaran dan peristiwa di tahun-tahun yang lalu. Tsunami, Gunung merapi, Lumpur lapindo, Gempa Bumi, Longsor, Angin puting beliung dan sebagainya. Untuk menjadikan kita kembali merenung dan introspeksi diri, betapa bangsa kita sedang diteror bencana alam,bencana ekonomi,bencana politik, sosial dan budaya.
Kemarin kita menyaksikan di berita,Erupsi Gunung Sinabung belum berhenti dan lonjakan pengungsi terus terjadi. Demikian pula dengan kerugian yang mencakup kerusakan rumah warga, prasarana publik, serta terganggunya kehidupan sosial masyarakat.
"Pengungsi makin banyak, saat ini ada 26.174 jiwa atau 8.160 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 89 tempat pengungsian," jelas Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif di Jakarta, Kamis (16/1/2014)

Catatan Akhir Pekan Alex Iskandar Ke-4
Oleh: Alex Iskandar
Alhamdulillah, CAP Alex Iskandar sudah berjalan ke pekan yang ke-4. Semua ini atas berkat maunah dari Allah ta'ala. Kita semua berdo'a semoga kita selalu dalam rahmat dan lindungan Allah swt. Aamiin..
Saya menonton beberapa tayangan TV News, baik berita seputar Bencana Banjir dan Gunung Sinabung, serta berita-berita politik yang mencakup kampanye besar-besaran lewat iklan di televisi, tentang Annas Urbaningrum, Nyanyian Nazarudin dan juga kejadian-kejadian disekitar daerah saya, seperti di Pulo Aren, Sukatani, Tambelang, dan Cabang Bungin. Banyak pelajaran dan renungan yang harus kita refleksikan. Betapa pantas dan sewajarnya saat ini kita flashback kepada pelajaran dan peristiwa di tahun-tahun yang lalu. Tsunami, Gunung merapi, Lumpur lapindo, Gempa Bumi, Longsor, Angin puting beliung dan sebagainya. Untuk menjadikan kita kembali merenung dan introspeksi diri, betapa bangsa kita sedang diteror bencana alam,bencana ekonomi,bencana politik, sosial dan budaya.
Kemarin kita menyaksikan di berita,Erupsi Gunung Sinabung belum berhenti dan lonjakan pengungsi terus terjadi. Demikian pula dengan kerugian yang mencakup kerusakan rumah warga, prasarana publik, serta terganggunya kehidupan sosial masyarakat.
"Pengungsi makin banyak, saat ini ada 26.174 jiwa atau 8.160 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 89 tempat pengungsian," jelas Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif di Jakarta, Kamis (16/1/2014)
16 orang tewas karena Banjir Manado, Banjir di Jakarta, Kasus Annas, dan banyak yang lainnya. Ini adalah bencana yang semakin menjadikan bangsa Indonesia kembali menangis dan harus segera bangkit. Muncul berbagai pertanyaan di benak kita, Bencana di Indonesia, Ujian atau Adzab?
Bencana alam bisa banyak arti. Bisa jadi adzab bila selama ini kita banyak bermaksiat dan ingkar akan segala perintah Tuhan. Bisa juga sebagai ujian sebagaimana firman Allah swt.
Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah :155)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.(Al-Baqarah:214)
Bangsa Indonesia harus kembali kepada Allah, karena tiada tempat lari kecuali kepada Allah. Fafirruu ilallah. Kita tentu berharap bencana segera berakhir dari negeri tercinta kita. Alangkah bodohnya kita ketika Allah menegur kita dengan beberapa bencana lantas kita belaga pilon, pura-pura tidak tahu dan cuek-cuek saja. Ibarat ibu yang menjewer telinga kita karena kita mulai berani bermain api. Itu adalah aplikasi rasa sayang ibu kepada kita. Tidak mau kita mendapat bencana yang lebih besar. Apakah kita menunggu hingga rumah kita yang terbawa arus banjir? atau rumah kita luluh lantak digoyang gempa? Na'udzu billah... Mari bersama kita bertaubat kepada Allah dengan memperbanyak istighfar dan meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan kita. Kembali menata hati dan jiwa untuk menjadi pribadi-pribadi yang shalih dan mengutamakan kasih sayang kepada sesama. Dan juga membersihkan hati kita dari berbagai penyakitnya, seperti hasud, iri, dengki, riya, sum'ah, ujub dll.
Hampir saja kita berputus asa akan masa depan bangsa kita dengan melihat realita yang terjadi seperti menggilanya korupsi di negeri ini. Milyaran Rupiah uang rakyat dicuri, padahal banyak rakyat kita yang hidup dibawah garis kemiskinan dan tersiksa dalam perihnya kelaparan. Bencana dimana-mana, bisa jadi ini adalah karena ulah kita dan ulah pemerintah kita. Alangkah baiknya jika uang yang sudah dikorupsi itu di sita dan diberikan kepada korban-korban bencana dan rakyat jelata. Seakan jalan bangsa ini melangkah dalam gelap, seakan kita dikurung oleh berbagai lingkaran setan. Seakan tidak ada solusi yang kembali membawa harapan baru negeri ini. Tapi Allah melarang kita untuk berputus asa. Karena dari itulah, walau perjuangan kita masih belum menemukan titik terang, tetaplah teteskan keringat dan tetaplah maju dalam perjuangan, karena Allah akan melihat hasil dari pekerjaan kita, dan kita harus yakin bahwa keringat dan darah kita yang kita teteskan di jalan Allah, akan mendapatkan hasil. Jika tidak di dunia, maka pahala Allah-lah yang akan kita terima, yakni surga abadi.
Di periode mendatang kita berharap dan berdo'a. Semoga Allah mengangkat bagi kita, pemimpin yang adil dan bisa mengangkat rakyat Indonesia dari jurang kehancuran. Pemimpin sejati yang menjadi tumpuan harapan wong cilik, kita merindukan pemimpin yang sederhana dan merakyat seperti yang di contohkan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Amin.
Duhai kawan, Jangan pergi ke arah gelap, matahari masih ada.
jangan tenggelam dalam duka, harapan masih ada.
jangan bersedih, Allah bersama kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar