Selasa, 01 April 2014

Wanita Dibawah Naungan Suami


Wanita Dibawah Naungan Suami

Wanita dalam perspektif saya, sangat penting. Rasulullah saw. bersabda: Annisaau 'imaadul bilad, idza sholuhat sholaahul bilad, wa idza fasadat fasaadul bilaad. Wanita itu tiangnya negara, apa bila baik ia, baiklah negara, apabila rusak ia, maka rusaklah negara. Ini menunjukkan bahwa kanjeng Nabi menggantungkan pemerintahan dalam skala apapun pada wanita. Baik buruknya, bagus rusaknya terletak pada wanita. Nabi Adam as. tergoda memakan buah khuldi, karena ajakan Hawa. Isteri Luth memberi tahu kaumnya yang homo akan kehadiran tamu yang tampan-tampan di rumah suaminya Luth. Banyak pula isteri presiden yang menentukan kebijakan sepak terjang suaminya pada suatu negara. Dan banyak contoh lain dalam berbagai kosmos kepemimpinan. Wanita menjadi tolak ukur kebaikan generasi muda dan generasi tua. Ini haruslah kita refleksikan dalam membangun dunia kita.

Pemberitaan yang miris tentang perlakuan yang tidak senonoh pada kaum wanita dewasa ini, bisa disebabkan wanitanya sendiri yang memberi peluang. Makanya Islam mewajibkan menjaga aurat agar tidak mengundang syahwat kaum Adam. Jika wanita menjalankan ajaran Islam yang indah, maka insya Allah takkan terjadi pelecehan pada kaum wanita. Tayangan televisi dan media massa yang lain yang banyak menayangkan akan aurat wanita menjadi pemicu hawa nafsu untuk meningkatnya kejahatan pada kaum hawa ini. Perbaikan akan moral wanita ini adalah tanggung jawab bersama, dari pemerintahan yang punya wewenang, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), hingga orang tua yang punya anak wanita. Rasul menjanjikan surga bagi orang tua yang betul-betul mendidik anak perempuannya menjadi wanita sholehah. Bahkan perhiasan terindah dunia ini adalah wanita sholehah. Islam datang untuk mengangkat derajat wanita yang dulu diinjak-injak hak asasinya. Bahkan Rasulullah saw. mengatakan surga dibawah telapak kaki ibu. Derajat wanita begitu tinggi dihadapan anaknya. Ini pastinya sosok ibu yang sholehah yang menuntun anaknya ke jalan kebenaran Islam.

Wanita ketika dalam naungan orang tua, maka surganya dibawah telapak kaki ibu. Tapi jika telah memiliki suami, maka surganya dibawah telapak suami. Bahkan Rasulullah saw. bersabda, jika saja saya boleh memerintahkan seseorang untuk menyembah makhluk, maka saya akan perintahkan isteri untuk bersujud pada suaminya, karena begitu besarnya hak suami pada isterinya. Hadits ini begitu jelas menggambarkan betapa suami itu harus dihormati dan ditaati selagi tidak memerintahkan maksiat kepada Allah. Wanita shalehah adalah wanita yang mencari surga pada keridhaan suami. Bukan yang menyetir suami dan mengipas-ngipasnya untuk korupsi dan menyimpang dari agama. Isteri yang mendoakan suami dalam usaha halal ketika pergi, bukan yang menjadi aral sepak terjangnya. Doa isteri adalah pembuka keberkahan rizki. Maju mundurnya suami tergantung isteri. Isteri shalehah adalah bidadari yang hadir di dunia. Anugerah yang agung buat suami. Makanya Rasul menyajikan 4 kriteria wanita yang hendak dinikahi itu karena hartanya, karena kecantikannya, karena nasabnya, dan terakhir karena agamanya.Rasul memerintahkan fazhfar bidzaatiddiin, maka pilihlah yang agamanya bagus. Wanita yang beragama atau shalehah adalah pilihan yang baling ideal buat suami, dan yang paling menjamin kebahagiaan buat suami. Inilah yang pernah dipesankan oleh Ibunda kepada saya, "Cari isteri yang shalehah. Yang sejalan. Jangan sampai disetir isteri." Ustadz saya pernah berkata, wanita shalehah itu laksana gagak yang putih bulunya. Bisa dikatakan betapa sulitnya mencari wanita shalehah. Namun begitu insya Allah masih ada bidadari itu di dunia ini. Maksud pembahasan saya ini adalah masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri bagi isteri yang kurang baik menjadi baik atau gadis yang belum shalehah menjadi shalehah. Wanita shalehah akan selalu ada selama belum kiamat. Makanya orang tua harus mendorong anak-anaknya untuk belajar agama, agar tahu bahwa agama memberikan jalan yang lurus akan hak dan kewajiban seorang wanita. Memilihkan suami yang shaleh untuk menjadi imam yang menuntun anaknya ke surga.

Keshalehahan seorang wanita terletak di hatinya, sebagaimana iman dan taqwa terletak di hati. Hati yang bersih dari segala penyakit iri, dengki, hasud dan riya serta berbagai jenis penyakit hati lainya harus dijaga. Isteri shalehah adalah isteri yang rela akan nafkah yang diberikan suami. Selalu bersyukur akan segala nikmat dan qona'ah(merasa cukup) akan rizki yang dijatahkan Allah. Melihat prestasi agama pada orang yang diatas, melihat keduniaan pada orang yang berada dibawahnya. Menjadi penyejuk mata suami. Menyambut suami pulang dengan senyuman dan melepas kepergiannya dengan doa. Alangkah tersiksanya suami jika pulang perginya dihidangkan ciput atau cemberut dan cemetut. Rumah yang ideal adalah baiti jannati. Rumahku adalah surgaku. Rumah yang laksana surga karena di dalamnya ada bidadari yang selalu menjadi penghibur buat suami. Menjadi pendukung terdepan dalam jihad fi sabilillah. Menjadi tempat bertukar pikiran dan pemberi solusi terbaik. Bukan isteri yang menjadikan baiti naari, rumahku adalah nerakaku. Karena isteri yang selalu bertolak belakang dan menjadi musuh yang selalu mengajak bertengkar, menyiksa suami lahir batin. Ulasan ini saya tutup dengan nasyid Rabbani untuk wanita muslimah di seluruh dunia.

Bidadari

Ketika hilang segala yang nyala
kau hadir dengan pelita hati
simpuhmu melangkah kesopanan
tiada bicara dapat dilafadzkan
pulangku kau sambut dengan senyuman
pemergianku didoakan kemuliaan
kau sulam kasih sayang ini
dengan kemesraan
walau kesederhanaan
yang mampu kuhulurkan
kau tadah penuh keridhoan
limpah syukurmu kususun rapi
sungguh dirimu dapat kuhargai
sebagai bidadari
Kau permaisuri hati
kau permata suci
akan kutabahkan hatimu dengan sinar iman
akan kuhiasi jiwamu dengan kewajiban
tanda mensyukuri anugerah Tuhan
serta anak yang menjadi penawar
dirimu anugerah Tuhan
amanah buat insan beriman
rusuk kiriku dicantumkan
agar dapat kita bergandingan

Wallahu a'lam bishshowab.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pertarungan Timur dan Barat

Diambil dari Ceramah Abah Uci Cilongok Sekarang negara mana yang benar-benar memegang Syariat. tidak ada. Sebab dalam kompetisinya kalah....